Jumat, 24 Agustus 2012

Perempuan yang Menginspirasi

1. DIAN PELANGI 

Dian Pelangi resah setiap mendengar wanita pemakai jilbab atau hijab dicitrakan kuno, tua, dan kampungan. Tumbuh di keluarga kental tradisi Islam, ayah pengusaha garmen, dan ibu pemilik butik muslim, ia pun tertantang membuat perubahan.

Berbekal pendidikan tata busana dan agama, ia ambil alih usaha butik ibunya. Tanpa menerjang pakem syariat Islam, ia perlahan mengubah citra negatif busana muslim lewat rancangannya yang stylish dan trendy.





IMG_2258-2Rancangannya tak hanya memikat muslimah tanah air, tapi juga mancanegara. Bahkan, mereka yang tak mengenakan hijab. “Saya tertantang mencipta fashion muslim yang berbeda. Karena selama ini berbusana muslim itu dianggap nggak keren, kampungan,” kata pemilik nama Dian Wahyu Utami itu.
Di tengah sukses sebagai perancang muda, wanita kelahiran 14 Januari 1991 itu menelurkan ‘Hijaber Community’. Komunitas muslimah muda yang aktif membagi tips dan pengalaman terkait hijab dan Islam. Kegiatannya mulai dari islamic fashion show, tutorial memakai hijab, tausiyah, dan pengajian.
Meski baru resmi berdiri awal tahun ini, komunitas yang ia bangun sudah menarik minat sedikitnya 14.500 follower di Twitter, dan lebih 19.000 pengguna Facebook. “Lewat komunitas ini, kami ingin mengsinpirasi wanita untuk mengenakan busana muslim.”
Di sela kesibukan sebagai perancang dan pendiri ‘Hijabers Community’, Dian menyempatkan diri berbincang dengan VIVAnews di butiknya, Bintaro, Jakarta Selatan, pekan lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana awal kisah terjun ke fashion muslim?
Sejak kecil, saya memang disiapkan orangtua untuk melanjutkan usaha garmen dan butik. Lulus SMP, saya disekolahkan di SMK 1 Pekalongan jurusan Tata Busana. Sempat malu, tapi sekarang malah bersyukur, he he he …

Lulus SMK, saya mulai diberi tanggung jawab mengurus butik ‘Dian Pelangi’ di Jakarta sambil melanjutkan sekolah ke ESMOD selama setahun. Setelah itu juga sempat mengambil kursus Bahasa Arab di Kairo, Mesir, untuk menambah pemahaman mengenai pakem-pakem agama Islam dalam berbusana.

_MG_0314Tahun 2009, saya diajak gabung ke Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Saya menjadi anggota termuda di asosiasi itu.

Pertama kali fashion show?
Pertengahan tahun 2009. Saya diajak Kementrian Pariwisata menggelar fashion show di Melbourne, Australia. Saya terkejut, karena ternyata ada perancang senior Iva Latifah juga. Sementara saya masih 18 tahun waktu itu.
Alhamdullilah responsnya bagus. Sampai ada ulasan di koran terkemuka setempat The Age. Mereka takjub dengan kolaborasi religi dan style yang saya buat. Mereka tidak menganggap aku aneh, atau mengait-ngaitkan busana muslim dengan terorisme.
Mereka apresiasi banget. Banyak juga bule yang borong, karena kan memang potongannya universal, bisa dipakai tanpa kerudung.
Dari situ aku semakin tertantang membuat baju muslim yang stylish, tanpa harus dengan bahan mahal.

Momentum yang paling menentukan karier?
Jakarta Fashion Week 2009. Saya tampil sebagai desainer junior pendatang baru. Responsnya luar biasa. Semua orang sepertinya membicarakan saya dengan banyaknya ulasan di media cetak, elektronik, dan internet.

Ajang ini yang sepertinya membuat saya makin dikenal dan mendatangkan undangan fashion show ke mancanegara. Ini menjadi batu loncatan yang bagus banget bukan hanya untuk aku tapi untuk semua fashion disainer Indonesia.

Dari situ, koleksi saya dilirik Kementrian Pariwisata untuk dibawa ke London, Inggris, April 2010, dalam acara ‘Indonesia Is Remarkable’ di Harrods. Tapi, sebelumnya saya juga sempat diajak pameran oleh Kementrian Perindustrian dan Perdagangan ke Abu Dhabi. Dan, responsnya selalu positif.
DSC_0768
Rancangan Dian Pelangi sudah menjelajah ke mana saja?
Beberapa wilayah Timur Tengah seperti Dubai, Abu Dhabi, Kairo, Jordania. Juga Malaysia, Singapura, Perth, Melbourne, London. Akhir tahun ini, insyaAllah ada muslim world exhibition di Paris.

Sudah banyak juga yang menawarkan untuk membuka butik di luar negeri, tapi saya masih butuh banyak pengalaman. Banyak juga tawaran untuk sekadar memasarkan koleksi-koleksi saya di Dubai, Jordania, bahkan Belgia.

Ada trik saat membawa koleksi ke mancanegara?
Saya selalu survei dulu budaya dan tren masyarakat setempat. Misalnya, saat ke Australia, saya pilih model-model coat atau maxi dress. Kalau ke Timur Tengah, saya buat model-model Kaftan. Ini mungkin yang membuat busana saya juga mudah diterima di setiap tempat yang saya datangi.
Inspirasi rancangan Anda?
Saya sangat suka dengan gaya busana Timur Tengah. Saya mulai mengamati gaya busana mereka sejak saya sekolah di Mesir. Saya pikir, mereka yang paling menjiwai bagaimana cara berbusana muslim yang baik. Ini sangat menginspirasi saya dalam mendesain busana muslim.
Tapi saya tak terpaku pada gaya mereka. Saya juga suka mengadopsi gaya busana masyarakat Eropa saat musim dingin. Dari situ saya mulai mencoba merancang busana tapi tetap dengan memadukan ciri khas budaya Indonesia, seperti jumputan, songket, dan batik.
Saya ingin mengangkat pengrajin asli Indonesia, agar hasil kerajinan mereka dikenal masyarakat luas.

Pakem rancangan busana muslim?
Yang jelas, bahannya nggak boleh transparan, desainnya nggak boleh membentuk tubuh, auratnya harus tertutup rapat, tidak mengundang perhatian orang, dan nggak terlalu heboh.
Cuma kan masing-masing juga ada tolak ukurnya. Kita juga harus memperhatikan perkembangan zaman. Kalau tidak, kita semakin sulit menginspirasi seseorang untuk mengenakan busana rapat dan menggunakan hijab.
Dulu orang menganggap mengenakan busana muslim selalu identik dengan gaya yang kampungan, tapi sekarang kan tidak lagi, mereka yang berbusana muslim juga bisa tetap tampil bergaya namun aurat tetap terjaga.

Ada yang kontra dengan karya Anda?
Bagi sebagian kalangan, desain saya mungkin ada yang agak ekstrim. Ada yang bilang Dian Pelangi busananya nggak mencirikan Islam. Itu jadi masukan.
Ada juga yang bilang Dian Pelangi sukses karena ibu dan bapaknya. Ini memang usaha warisan, tapi seharusnya mereka melihat setelah saya pegang grafiknya menurun, naik, atau stag. Yang pasti, nggak mudah meneruskan usaha ini.

Ciri khas busana Dian Pelangi?
Setiap desainer harus punya karakter. Yang selalu saya tekankan adalah corak warna-warni sesuai label ‘Pelangi’ yang saya pakai. Minimal ada 2 -3 warna dalam setiap rancangan saya. Harapannya, tanpa melihat label, orang sudah tahu itu rancangan saya. Kalau tidak, bisa dicap rancangan orang lain.

Material kain impor atau lokal?
Tenun, songket , batik, dan jumputan diproduksi sendiri di Pekalongan. Bahannya pun asli Indonesia. Khusus jumputan yang memang asli Palembang, biasanya saya desain dulu gradasi warnanya baru dijumput. Kalau tenun, bapak saya menekuni sejak lama.

Ada berapa karyawan?
Di Jakarta sekitar 50 orang. Di Pekalongan sekitar 300 pengrajin.

Kemampuan produksi dalam sebulan?
Saya punya beberapa jenis produk, yaitu Batik Pelangi, Dian Pelangi, Bride Pelangi, dan Tenun Pelangi. Ada kategori mass product dengan harga berkisar Rp50-400 ribu, dan special product Rp500 ribu sampai Rp3 juta.
Total sebulan bisa produksi 1.000 potong baju. Tapi, memasuki bulan Ramadan ini permintaan bisa meningkat tujuh kali lipat.
Tren Ramadan tahun ini?
Ramadan tahun ini, koleksi kami tetap mengacu pada model-model busana Timur Tengah, celana harem, atau gaya-gaya Arab urban. Trennya masih seperti itu, mungkin dengan paduan bebatuan kekemasan.

Tips berhijab ala Dian Pelangi?
Kerudung kan memiliki gaya macem-macem, tapi aturan yang harus diikuti. Jangan terpaku pada komentar orang. Keluarkan saja personal style kamu, asal gayanya nggak terlalu berlebihan.
Untuk malam, pilih kerudung warna-warna gelap, seperti hitam, maroon, ungu, abu-abu atau sesuaikan dengan acaranya. Untuk siang hari, gunakan warna-warna lembut. Jika baju sudah penuh motif, kerudung jangan terlalu ramai. Sebaliknya, kalau kerudungnya sudah ramai, baju netral saja.

Gaya busana Dian Pelangi banyak ditiru dan jadi tren?
Ini menjadi sesuatu yang saya sangat syukuri. Alhamdulillah bisa saling menginspirasi gaya berbusana kaum muslimah. Ini juga tak lepas dari keberadaan teman-teman di ‘Hijabers Community’ yang turut mempopulerkan gaya busana Dian Pelangi lewat event-event yang kami gelar.
Yang belakangan banyak diminati adalah busana casual dari bahan kaos yang dijumput (tie dye). Saya pikir kaos material yang tepat karena ringan, simpel, dan tidak terlalu mahal.

Apa itu ‘Hijabbers Community’?
Ini bermula puasa tahun lalu. Saat itu, ada undangan banyak untuk fashion show saya. Teman baik saya, Ria Miranda, usul kenapa nggak undang para muslimah remaja aja. Nonton fashion show sekalian buka bersama. Akhirnya, kami sebar undangan lewat jejaring sosial, kami juga gandeng para fashion blogger.

Animonya ternyata bagus, dari 30 kursi yang kami pesan untuk buka puasa ternyata yang datang sampai 50-an orang. Dari situ, ada sekitar 30 orang yang intens berkomunikasi. Januari 2011 mulai terbentuk komunitas itu dan, Maret 2011 kami resmi launching.
Kegiatannya nggak hanya mengadakan persiapan fashion show, tapi ada juga acara pengajian rutin, tausiyah. Jadi nggak sekedar kumpul-kumpul haha hihi dan ngomongin fashion aja, jadi ada pengajiannya juga, nggak melulu fashion show.


Ada yang bilang ‘Hijabers Community’ seperti sosialita berjilbab?
Nggak gitu. Kami hanya sebagai wadah yang ingin mengsinpirasi wanita untuk mengenakan busana muslim. Karena selama ini berbusana muslim itu dianggap nggak keren, kampungan, nggak bisa tampil trendy.
Banyak juga yang bilang pake kerudung itu nggak bisa sukses dan berkembang. Lewat komunitas ini kami tunjukkan kalau ternyata banyak muslimah yang kariernya bagus.
Kami nggak sekadar kumpul ketawa-ketawi dan pamer barang mewah. Kami memang senang kumpul untuk tukar informasi mengenai fashion dan senang berpakaian bagus, tapi apa yang kami sebenarnya juga busana rancangan teman-teman sendiri.
Prinsip kami, syiar itu nggak mesti dilakukan di masjid, bisa saja syiar (menyebarkan ajaran-ajaran Islam) dilakukan di mall dengan memakai busana muslim yang menarik. Nggak zamannya lagi seorang muslimah itu tertutup.
Alhamdulillah di komunitas ini kami selalu saling mengingatkan, seperti ketika pake kerudung kelihatan rambut atau leher, kami saling mengingatkan. Kami membuat komunitas tapi tetap ada pakem-pakem muslimahnya.

Syarat jadi anggota ‘Hijabers Community’?
Yang pasti harus memakai hijab. Saat ini, anggotanya baru 30 saya, yang tergabung dalam komite kepengurusan dengan rentang usia 20-30 tahun. Sejauh ini, sudah ada cabang di Bandung dan Yogyakarta.
Kami sedang pikirkan untuk menerima lebih banyak anggota dan membuat kartu identitas. Karena di sini kami juga nggak asal ngambil orang untuk jadi anggota. Yang pasti harus diseleksi. Tapi, kalau mereka yang selalu intens mengikuti kegiatan kami jumlahnya sangat banyak.

Tantangan membangun ‘Hijabers Community’?
Kami sering dicap sebagai wanita gaul berjilbab yang mau eksis doang. Tapi, justru kami jawab dengan melakukan banyak kegiatan positif dan amal. Terserah orang mau bilang apa, dan Alhamdulillah komunitas ini lebih banyak manfaatnya dari pada mudaratnya.

Impian ke depan?
Saya ingin bikin Adibusana Muslim, biar nantinya fashion muslim sejajar dengan fashion-fashion di Paris termasuk juga sejajar dengan Milan Fashion Week.
Bersama teman-teman di ‘Hijabers Community’, kami bercita-cita mengangkat dan mendukung Indonesia menjadi pusat fashion muslim di dunia. Kalau bukan kita yang mengangkat busana muslim, siapa lagi. (eh)
~ Semoga Bermanfaat dan Menginspirasi Anda ~
Sumber : VIVAnew.com
Foto : dianrainbow.blogspot.com/7/8

2.Anne Ahira

The Inspiration Behind The Success Of ‘Asian Brain’

By: Angie Shiflett
Anne Ahira, CEO of Asian Brain, was born on the 28th day of November in the year of 1979. By the year 2001, Anne Ahira started her first online business. The amazing thing about her starting an online business at the time is that she was a novice, not even being familiar with the concept of “email”.
Naturally, though, Anne faced the challenge and learned as much as she possibly could about the internet and all the basics on how an individual could become successful in her line of work. Today, she is one of the most successful internet marketers on the World Wide Web today!

By the month of November in the year of 2005, Anne Ahira founded what is known today as Asian Brain Internet Marketing Center. Starting as a basic membership website at the time, today this company is recognized as the BEST online school when it comes to educating those in the Indonesian area in the area of internet marketing, and how to be successful when it comes to conducting business in the online market. Now, Anne Ahira has thousands of individuals that are considered to be students to internet marketing at her Online Marketing Center.

The techniques introduced by Anne Ahira quickly emerged as the most popular techniques in all of Indonesia. As a result of her successful strategies, many different types of mass media, both online and offline, sought to learn about this woman. She was quickly approached by many different television programs, radio stations, newspapers, magazines, and yes, even tabloids!

She become the ICON when it came to internet marketing in Indonesia as a result of the appearances, interviews, and headlines that surrounded her name. In factual media, such as national television and newspapers, she was hailed as an “Inspiring Woman” for those looking to achieve financial success in their lives through the means of internet marketing.

The biggest names in media print have featured Anne Ahira a number of times! Popular publications like that of KOMPAS, Media Indonesia, SWA, ANTV, TPI, and Metro TV have introduced the Indonesian people to this astounding lady in internet marketing.
Several articles detailing the work that Anne Ahira has done have been detailed in these popular publications. In addition to this, the impact that she has had on the lives of the Indonesian people have also been documented by these particular publications. Word has quickly traveled about the innovative approach that Anne Ahira has in internet marketing, as well as her keen ability to bring success to the lives of others!
The Indonesian Government has awarded Anne Ahira in several ways. The following details the contributions that Anne Ahira has been recognized for:
Kartini Indonesia
In the year of 2005, the Minister of Empowering Women choose Anne Ahira for this prestigious award. The name of this award was derived from a women’s hero in the Indonesian culture by the name of “Kartini”. This hero was known to have brought about a major difference in the lives of Indonesian women.
Anne Ahira received the gold pin from the government of Indonesia and received the “Modern Kartini of Indonesia”. She received this national award for her contributions to women looking to succeed in online and basic professional endeavors as numerous females found her work to be remarkable and inspiring.

Small and Medium Business Entrepreneur Award
In the year of 2007, the Indonesian people elected and announced Anne Ahira as the winner of the “Small and Medium Business Entrepreneur Award”. This was hand delivered by the Minister of Indonesian Cooperative for her success in developing a business that would positively contribute to the economic status and sector of Indonesian people. It was found that her business, Asian Brain Internet Marketing Center, had quite a positive impact on the finances of the area that she resided and worked in.

APEC Involvement
Later, in 2007, Anne’s success landed her the proposal of being a keynote speaker for the ever-popular Asia-Pacific Economic Cooperation ( APEC ). She was personally requested by the Indonesian Government to do this.
APEC also elected to highlight Anne Ahira in their newsletter. As can be seen in the photos below her participation in this international, monumental event!

Anne Ahira at the APEC meeting delivered an important speech attended by political party from 26 countries!!


Anne Ahira with other delegates at the Conference

Dreams and Goals
Anne Ahira has accomplished many things in her life. Her initial goals have been achieved, and the dreams that she first had when starting in her own internet business have been accomplished. Now that she has made her impression in the online community, she is ready to move on to bigger and better things!
In the years of 2004 – 2007, she traveled to several cities across the country of Indonesia to give seminars on her success, and to motivate others to start their own success story. She was absolutely amazed at the amount of individuals who wanted to pursue the same success that she had achieved, and sought out ways to teach them more!
Now, Anne Ahira wants to reach out and teach others what she knows about internet marketing. She wants to change the lives of the Indonesian people by creating as business revolution. Her amazing seminars and conferences have brought in people by the hundreds wanting to learn as much as they possibly can about internet marketing!
Check the pictures below to see her moving presentations to the Indonesian people!

Anne Ahira Seminar in BALI


Anne Ahira Seminar in Batam


Anne Ahira Seminar in Surabaya


Anne Ahira gets standing applause before the seminar even begin!

Anne Ahira aspires to teach her vision and the mission of her intentions to all of her students at Asian Brain. She is moved to make a difference in the lives of others. She believes that this is possible by creating a complete Business Revolution in her country of Indonesia.
One of the main things that she expresses to her students is that in order to makes their dreams come true and help themselves that they should work to help one another. Several students are working to ensure that they follow the example that Anne Ahira has set when it comes to business and success, and she is actually truly amazed at the impact that she has among them!
These students are excelling in numerous ways! Based on their own initiative, they are actually setting up their own conferences. In these conferences they have developed a type of “Buddy System” that encourages senior members to group with junior members to assist them in their endeavor of achieving success!
These community conferences are held in some of Indonesia’s largest cities, such as: Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Makassar, and more!

Asian Brain Community

Asian Brain members are referred to as “AsianBrainers”. However, this is such a large community of individuals that most will attach their city name to the phrase. For example, an individual that is part of Asian Brain in the city of Bali may refer to themselves as “Asian Brain Bali”, or a member that lives in Jakarta may call themselves “Asian Brain Jakarta”.
Known as the single largest online and offline community in internet marketing, thousands upon thousands of individuals are now learning all there is to know about internet marketing and more!
The Indonesian people feel extremely valued to have such a person as Anne Ahira in the Business Revolution that will make their country a success in business. Anne Ahira believes that her revolution WILL happen and that one day, several millionaires will emerge on the business scene of the country of Indonesia!

YOU ARE MY INSPIRATION ANNE AHIRA !! :D And I hope to like you... #amiiiinnnnn... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar